KH Misbahus Salam Apresiasi Gerakan Mahasiswa Gagas Rumah Toga Isi Kampung SDG’s Kesehatan Sukorejo

Korwil Jatim: Catur Teguh Wiyono

Bagikan postingan

RUMAH TOGA DAN PENCAPAIAN SDG’s KESEHATAN

Jember, rilisfakta.com – Kampung SDG’s laksanakan pembangunan rumah Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang digagas oleh mahasiswa Fakultas Farmasi dan Pertanian Universitas Negeri Jember di kampung SDG’s Sukorejo, Bangsalsari Sabtu, (29/6/2024) pukul 15.00 Wib.

Menurut Cheryl Areta selaku Ketua Kelompok Promahadesa menuturkan bahwa program Rumah TOGA ini merupakan kegiatan Mahasiswa yang dibersamakan dengan KKN dan praktek dari disiplin ilmu yang dipelajari.

Ya mas jadi ini merupakan kegiatan mahasiswa yang bersamaan dengan KKN sekaligus sebagai praktek dari disiplin ilmu yang dipelajari,” Ungkapnya.

Kegiatan ini sangat diapresiasi oleh KH. Misbahus Salam selaku Ketua Pembina PPKSI ( Pusat Pengembangan Kampung SDGs Indonesia). Beliau menyampaikan bahwa Rumah TOGA merupakan konsep pemanfaatan lahan rumah untuk menanam berbagai tanaman obat keluarga. Konsep ini menjadi semakin populer di tengah masyarakat yang mulai sadar akan pentingnya pengobatan alami. Dengan menanam tanaman obat sendiri, keluarga tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan pengobatan sederhana tetapi juga mengurangi ketergantungan pada obat-obatan kimia.

Jadi rumah Toga ini merupakan konsep pemanfaatan lahan rumah untuk menanam berbagai jenis obat, sehingga bermanfaat untuk keluarga. Dan lambat laun konsep ini menjadi populer, keluarga tidak hanya dapat memenuhi obat sederhana, tetapi juga menguranhi ketergantungan pada obat obat kimia,” Jelasnya.

Tanaman yang ditanam di Rumah TOGA meliputi jahe, kunyit, lidah buaya, Bunga Telang dan sereh. Masing-masing tanaman memiliki khasiat tersendiri, seperti jahe untuk mengatasi mual dan kunyit sebagai anti-inflamasi. Selain sebagai obat, tanaman-tanaman ini juga sering digunakan sebagai bumbu dapur, sehingga memberikan manfaat ganda bagi keluarga yang menanamnya.

Keberadaan Rumah TOGA juga berperan penting dalam pelestarian lingkungan. Dengan memanfaatkan lahan sekitar rumah untuk menanam tanaman obat, kita dapat meningkatkan keanekaragaman hayati dan menjaga ekosistem lokal. Selain itu, penanaman tanaman obat di sekitar rumah juga membantu mengurangi polusi udara dan meningkatkan kualitas udara di lingkungan sekitar.
Secara sosial, Rumah TOGA dapat menjadi media edukasi bagi masyarakat sekitar. Melalui kegiatan bersama, seperti pembibitan dan pengolahan tanaman obat, masyarakat dapat saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Hal ini tidak hanya memperkuat hubungan sosial tetapi juga mendorong kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga kesehatan secara alami, sekaligus untuk pencapaian tujuan SDGs bidang kesehatan, tutur KH. Misbah yang juga Pengurus LAZISNU PBNU dan Pengasuh Yayasan RDS. (Zainulloh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button